selamat datang... jangan lupa tinggalkan komentar :) boleh copast asalkan cantumkan sumber yang jelas! Ok! :)

Rabu, 20 Agustus 2014

laporan Indikator asam basa kelas XI


Indikator Asam Basa

I.     Tujuan Percobaan
*      Mengetahui larutan bersifat asam, basa, atau netral dengan menggunakan indikator alami
*      Mengetahui larutan asam basa dengan menggunakan kertas lakmus
*      Mengukur pH larutan menggunakan kertas  indikator universal

II.     Dasar teori
Asam dan basa merupkan kelompok larutan yang banyak berperan dalam reaksi kimia. Asam menurut teori arthenius adalah suatu zat yang jika di larutkan kedalam air akan menghasilkan ion hidrogen (H+). Sedangkan basa menurut teori arthenius adalah suatu zat yang jika dilarutkan kedalam air akan menghasilkan ion hidroksida (OH-). Adapun rasa dari kedua zat ini yaitu terasa masam untuk asam dan pahit untuk basa. Asam bersifat korosi (merusak logam) sedangkan basa bersifat kaustik (merusak kulit).
 Untuk menganali suatu zat bersifat asam atau basa kita di larang keras untuk sembarangan memegangnya apalagi mencicipinya, karena akan sangat berbahaya. Misalnya saja asam sulfat (H2SO4) yang biasa digunakan sebagai accu zuur (air aki), jika terkena tangan akan melepuh dan bila terkena mata akan buta. Contoh zat lainnya natrium hidroksida (NaOH) banyak digunakan untuk membersihkan saluran air bak cuci, bila terkena tangan akan terasa licin dan gatal-gatal serta tangan mudah teriritasi. Cara yang tepat dan mudah untuk menentukan suatu zat bersifat asam atau basa ialah dengan menggunakan zat penunjuk atau biasa disebut indikator. (Hardianto dan Ruminten, 2009: KIMIA 2: 145).
Indikator adalah suatu zat yang dapat berubah warnanya sesuai dengan banyaknya konsentrasi H+ atau pH larutan. Dengan perubahan tersebut, suatu larutan dapat dikelompokan menjadi asam atau basa. (Sutrisna dan Listiana, 2006: SPEKTRUM KIMIA 2: 250). Indikator asam basa dan penentu pH banyak jenisnya. Antara lain kertas lakmus, fenolftalen, metil merah, metil jingga, bromtimol biru, indikator alami dan kertas indikator universal. Bisa pula menggunakan pH meter berupa alat digital.
Suatu zat bisa dikatakan asam, basa, atau netral bergantung dengan nilai pH-nya. pH merupakan kepanjangan dari power of hydrogen, atau derajat keasaman. Rentang pH dimulai dari angka 0- 14. Dimana asam memberikan nilai pH 0-6,9. Netral berada di pH=7, dan basa dimulai dari pH 7,1-14. Untuk asam, semakin kecil nilai pH maka semakin kuat asam tersebut. Kebalikan dari asam, pada basa, semakin tinggi nilai pH maka semakin kuat basa tersebut.
Berkaitan dengan indikator praktikum kali ini, yaitu menggunakan kertas lakmus, indikator alami, dan kertas indikator universal. Dimana dari ketiga indikator ini mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kertas lakmus hanya bisa menentukan suatu larutan bersifat asam dan basa saja tanpa mengetahui nilai pH-nya. Indikator alami pun sama, lerlebih lagi mudah di dapat, contohnya kembang sepatu, kulit manggis, bunga pacar air (ungu), kunyit dan masih banyak lagi. Tetapi untuk mengetahui nilai pH-nya perlu diteliti lebih lanjut berdasarkan perubahan spektrum warnanya yang bermacam-macam. Dan kertas indikator universallah yang menurut saya lebih komplit mencakup dua indikator di atas, karena selain bisa membedakan  suatu zat atau larutan bersifat asam, netral atau basa juga bisa mengetahui nilai pH-nya.
III.     Alat dan Bahan


-       Gelas kimia
-       Pelat tetes
-       Mortal
-       Pipet
-       Spatula   
-       Saringan
-       Air
-       Larutan A, B, C, D, E, F, dan G dengan pH=0 sampai pH=14
-       Bunga jarong (indikator alami)
-       Kertas lakmus merah
-       Kertas lakmus biru
-       Kertas indikator universal





IV.     Cara Kerja
Langkah 1 : membuat indikator alami
1.      Siapkan mortal, tumbuk bunga jarong dan beri sedikit air. Tumbuk sampai halus. Setelah halus, ambil sari bunga jarong yang telah dihaluskan dengan cara menyaringnya.
2.      Siapkan pelat tetes, beri setiap lubang di pelat tetes dengan 2 tetes larutan A, B, C, D, E, F, dan G yang sudah disediakan.
3.      Ambil indikator alami menggunakan pipet, kemudian teteskan larutan A, B, C, D, E, F, dan G pada pelat tetes masing-masing cukup 2 tetes.
4.      Catat perubahan warna yang terjadi pada setiap sampel larutan di tabel pengamatan.
Langkah 2 : membuat indikator kertas lakmus
1.      Masukan 2 tetes larutan A, B, C, D, E, F dan G pada setiap lubang di pelas tetes. Lakukan dengan hati-hati supaya setiap larutan tidak bercampur.
2.      Kemudian uji setiap larutan dengan mencelupkan kertas lakmus merah dan kertas lakmus biru pada larutan yang akan diuji. Catat perubahan yang terjadi.
Langkah 3 : menentukan pH
Sama seperti langkah 2. Hanya saja uji setiap larutan menggunakan kertas indikator universal. Cocokkan perubahan warna yang terjadi dengan warna skala pH yang tertera pada kemasan indikator universal. Amati perubah tersebut dengan mencatat nilai pH-nya.
V.     Hasil Pengamatan
Ø Percobaan 1
Menggunakan indikator alami sari bunga jarong (berwarna ungu)
No
Larutan
Perubahan Warna
Kesimpulan
1
A
merah muda
asam
2
B
merah muda
asam
3
C
ungu
netral
4
D
biru dongker
netral
5
E
ungu
netral
6
F
hujau tua
basa
7
G
kuning
basa

Ø Percobaan 2
Menggunakan indikator kertas lakmus dan kertas indikator universal
No
Larutan
Indikator
pH
Kesimpulan
Lakmus merah
Lakmus biru
1
A
Merah
merah
1
asam
2
B
Merah
merah
1
asam
3
C
Merah
biru
8
netral
4
D
Merah
biru
7
netral
5
E
Merah
biru
7
netral
6
F
Biru
biru
9
basa
7
G
Biru
biru
14
basa

VI.     Pertanyaan
v Mengapa kertas lakmus merah dalam suasan basa berubah warna menjadi biru dan kertas lakmus biru dalam keadaan asam berubah warna menjadi merah?
v Jawab: perubahan warna yang mampu dihasilkan pada kertas lakmus disebabkan oleh adanya orchein (ekstrak lichenes) yang berwarna biru didalam kertas lakmus. Lakmus biru dibuat dengan menambahkan ekstrak lamus yang berwarna biru kedalam kertas putih. Kertas akan menyerap ekstrak lamus yang selanjutnya dikeringkan dalam udara terbuka sehingga dihasilkan kertas lakmus biru. Kertas lakmus biru pada larutan yang bersifat basa akan tetap berwarna biru, karena orchein merupakan anion, sehingga tidak akan bereaksi dengan anion (OH-). Kertas lakmus merah dibuat dengan proses yang sama dengan pembuatan kertas lakmus biru. Tetapi ditambahkan sedikit asam sulfat atau asam klorida agar warnanya menjadi warna merah. Sehingga mekanisme reaksi orchein pada suasana asam kembali terjadi apabila kertas lakmus merah dimasukan kedalam larutan  yang bersifat asam akan tetap merah karena lakmus merah memang merupakan orchein dalam suasana asam. Sedangkan, apabila kertas lakmus merah ditambahkan larutan yang bersifat basa, maka orchein yang berwarna biru akan kembali terbentuk. (Yahoo! answer)

VII.     Pembahasan
Setelah dilakukan percobaan, pada percobaan 1 dan percobaan 2 terdapat kesamaan dalam nama larutan yang bersifat asam, basa dan netral.
ü Percobaan 1


Larutan A dan B bersifat asam, berdasarkan kasamaan perubahan warna yang menjadi merah muda. Larutan C, D, dan E bersifat netral. Walau warnanya sedikit terlihat berbeda, larutan D lebih dominan berwarna biru dongker. Namun dapat disimpulkan ketiga larutan tersebut berwarna ungu. Adapun basa merupakan sifat dari larutan F dan G, dimana sampel F berubah warna menjadi hijau dan sampel G berwarna kuning.   






ü Percobaan 2
Pada percobaan menggunakan kertas lakmus dipakai dua macam kertas lakmus. Kertas lakmus merah dan kertas lakmus biru. Jika kertas lakmus merah di celupkan pada sampel larutan dan warnanya berubah menjadi biru, maka larutan tersebut bersifat basa. Begitupun dengan kertas lakmus warna biru. Namun, jika kedua macam kertas tersebut tidak berubah warna, yaitu tetap pada warna semula, lakmus merah tetap berwarna merah dan lakmus biru tetap berwarna biru setelah di celupkan pada sampel larutan, dapat disimpulkan bahwa larutan tersebut bersifat netral. Bisa dilihat pada tabel pengamatan percobaan 2.
Dari data hasil praktikum di atas terdapat beberapa keganjilan pada percobaan larutan C. Ketika sampel ini diuji menggunakan kertas lakmus, tak terjadi perubahan yang mencolok, hanya ada sedikit banyangan warna merah pada lakmus biru dan sedikit bayangan warna biru pada lakmus merah, samar-samar terlihat. Waktu itu pula saya dan kelompok menyimpulkan bahwa sampel ini bersifat netral. Keganjilan ini diperjelas lagi saat menggunakan kertas indikator universal. Hasil pH  yang seharusnya 7 ternyata lebih condong ke 8. Berbeda dengan dasar teori sebelumnya dimana angka 8 sudah termasuk kedalam zat yang bersifat asam. Mungkin pada saat pengujian dengan indikator universal terjadi kesalan penglihatan saat menyocokan perubahan warna pada kertas indikator universal dengan patokan warna skala pH indikator universal. Karena pada saat praktikum, kelompok saya mengejakannya dengan terburu-buru. Hanya satu kali saja melakukan percobaan pada setiap larutannya. Padahal percobaan berulang-ulang dapat mempengaruhi keabsahan hasil praktikum.

VIII.     Kesimpulan

1.     Indikator alamipun dapat digunakan untuk menentukan suatu zat bersifat asam dan basa asalkan penentuan tumbuhan yang akan dijadikan indikator alami tepat.
2.    Kertas lakmus bisa membedakan suatu zat bersifat asam, basa dan netral dengan cepat tetapi tidak bisa menentukan nilai pH-nya.
3.    Pengujian larutan dengan menggunakan kertas indikator universal selain bisa membedakan zat yang bersifat asam, basa dan netral juga sekaligus bisa mengetahui nilai pH-nya.
4.    Jika menggunakan indikaor alami, jangan mendiamkan sari tumbuhan tersebut terlalu lama, sebisa mungkin pakai segera. Karena sari tumbuhan tersebut bisa teroksidasi dan mengakibatkan hasil percobaan tidak maksimal.
5.    Ketelitian, kehati-hatian dan kesabaran dalam praktikum sangatlah penting guna mendapatkan hasil yang memuaskan.

Senin, 14 Juli 2014

Aku Pergi



Paling enak baca ini sambil dengerin lagunya Alika ­- Aku Pergi J
Adakalanya kita harus pergi walau sebenarnya kita masih mencintainya. Ini bukan berarti kita tak peduli, namun lebih dari itu, kita amat menyayanginya. Ada ribuan alasan kenapa kita harus meninggalkannya J

Bukan membenci atau yang lainnya. Ada hal yang jauh lebih indah di luar sana yang akan membuat hubungan kita bisa lebih indah. Itu mungkin secret. Yah, keajaiban cinta! Kau harus percaya. Tuhan pasti akan memberkati  kepergian ini. Bukan maksud untuk mengakhiri, hanya  saja untuk menguatkan hubungan ini.  Aku percaya, kau memang setia. Tapi, bukankah jarak adalah ujian cinta Sayang? Bukan maksud ragu dengan kesetianmu, ini juga pengujian sejauh mana kesetianku.
Ada saat-saat dimana kita merasa bosan dengan semua keebersamaan kita. Namun ini bukan berarti aku bosan denganmu, aku hanya ingin ada suasana baru diantara kita. Suasana yang bisa mengantarkan kita untuk bisa mamahami pribadi kita. Aku ingin jauh mengenal dirimu, jauh ke dalam hidupmu bukan sebatas sisi luar dirimu. Selama ini kita selalu baik-baik saja, kita belum pernah berjalan dari zona aman hubungan kita. Selalu rukun tak ada percekcokan yang berarti, dan entah mengapa aku tak nyaman dengan keadaan ini. Mari kita keluar dari zona man ini!
Lagipula, mungkin ini juga takdir kita berdua untuk dipisahkan sementara waktu. Sayang, Tuhan selalu menggariskan jalan hidup hambanya dengan yang terbaik, bukankah kita selalu mempercayainya? Aku berharap semua yang terbaik untuk kita. Kita pernah bahagia bersama, tertawa –menangis bersama. Kali ini juga aku ingin semua itu kita tinggalkan sebentar, hanya sebentar. Kenangan-kenangan kita takkan ku lupa, semua itu sudah kusimpan rapat disini, di hatiku. Sayang, sekali lagi kau jangan ragu. Aku minta maaf untuk keputusan yang kuambil ini. Ku tak ingin ada benci, ku tak ingin ada caci, yang aku ingin kita selalu baik-baik saja.
Citaku di luarsana sudah menanti. Aku tak bisa mencampakkannya terlalu lama lagi karena memang sudah terlampau lama. Kali ini kita harus terpisah,
a k u  p e r g i . . .

Aku pergi.... bukan berarti tak setia
 Aku pergi.... demi untuk cita-cita
Maaf bila, mungkin kita harus terpisah
Relakanlah, mungkin ini memang sudah takdirnya
Reff:
Ku tak ingin ada benci
Ku tak ingin ada caci yang aku ingin kita baik-baik saja
Kenangan kita takkan ku lupa, ketika kita masih bersama
Kita pernah pernah menangis, kita pernah tertawa, pernah bahagia bersama
Semua akan slalu ku ingat, semua kan slalu membekas
Kita pernah bersatu dalam satu cinta
dan kini kita harus terpisah
Aku pergi
# back to Reff

Senin, 05 Mei 2014

(Cerpen) Kau Ta'jil Buka Puasaku


Seberkas sinar menerobos jendela kamar, terus menyelusup masuk sampai jatuh ke retina dari celah-celah kelopak mataku. Akh hari sudah subuh, mimpi indah semalam telah membuatku begitu terpulas tidur. Kulangkahkan kaki dengan begitu beratnya menuju kamar mandi. Gemericik air semakin menyadarkanku bahwa fajar memang sudah menyingsing. Shalat subuh sudah kutunaikan, bergegas pergi  bermalas-malasan lagi di singgahsanaku, apalagi kalau bukan kembali ke tempat tidur nan empuk ini. Pagi ini aku tak sarapan. Jadi, waktu sarapan ku pakai untuk tidur sejenak.
            Sudah pukul 6. 45 WIB waktunya aku berangkat ke sekolah. Ets sebentar, sebelum itu aku merapikan kerudung terlebih dahulu, melipat sisi sebelah kanan, lalu sebelah kiri dan mengaitkannya dengan sebuah peniti warna merah, dan selesai. Tas sudah kugendong, sekarang tinggal mengayuh sepeda. “Nanana..nanaa..” pergi ke sekolah sambil bersenandung, bergurau dengan kawan, tertawa bersama. “Eh Bila awas nabrak kodoook...” teriak temanku, sekejap ku belokkan setang sepedaku menghindar dari kodok itu. “La, kamu puasa hari ini?” tanyanya padaku, “Puasa dong!” “Berarti nanti sore kita bisa main sepeda bareng sambil nunggu adzan maghrib dong!” masih dengan sepadaku, “ yah Bil, aku gak bisa. soalnya mau bantu-bantu ibu.”
            Sebagai umat nabi muhammad setiap hari senin dan kamis aku menjalankan puasa sunah. Kata guru ngaji, puasa senin kamis itu bagus. Hari senin itu hari lahir nabi muhammad SAW. Sebagai umatnya itu cara kita selalu ingat padanya. Sedangkan hari kamis, itu hari dimana buku catatan kebaikan kita diserahkan pada yang maha kuasa. Katanya, pada waktu ini kita di sarankan untuk puasa supaya malaikat tidak salah memberikan buku amal kita, seperti ini “Ini buku amal si fulan yang sedang puasa itu!” jadi, ada bedanyalah dengan umat yang lain. Emm percaya atau tidak percaya juga sih, masa malaikat bisa salah? hehe. Aku hanya mengambil sisi positifnya saja. Puasa itu suatu ibadah, dan ibadah adalah pahala.
            Pukul 7.10 aku sudah tiba di gerbang sekolah. Sorot mataku tertuju pada motor warna hitam di sudut parkiran itu. aku hafal benar milik siapa motor itu. Ikhwan, itu motor ikhwan. Sekali, dua, tiga kali aku pernah duduk di motor itu. Dia bukan siapa-siapaku, sekedar sahabat, hanya saja aku selalu bahagia melihatnya. Ya, walau baru motornya saja yang aku lihat. Mungkin, hari ini aku tak boleh melihat apalagi bertemu ikhwan, karena  aku sedang puasa. Bukankah orang yang sedang puasa itu mulut, tangan, mata, telinganya, pokoknya seluruh anggota badannya juga harus ikut dipuasakan? Karena setiap melihat ikhwan terasa ada yang berbeda dalam hatiku. Ini bisa mengurangi pahala puasaku.
            Tiba di kelas suara riuh sudah terdengar dari kelas sebelah, tiba-tiba Heni menghampiri, menarik tanganku. “Apa sih Hen?” ucapku padanya, “Ini loh Bil, aku punya berita bagus, kamu bisa nyasel kalau gak mau dengerin aku!” “Iya, iya, apa, ada apa?” “Ikhwan...” “iyaa Ikhwan kenapa?” “tadi aku denger Ikhwan udah punya cewek!” “Masa sih?” nada suaraku menurun, “Beneran, aku denger tadi pagi dia bonceng cewek, cantik banget. Kulitnya putih, bahkan Bil, saking putihnya, katanya sampai-sampai waktu malam gelappun kulit yang putihnya itu bisa bercahaya lo! Hebat gak tuh!” tutur Heni, “Oh..!” Walau aku tak menyukai Ikhwan, rasanya tetap ada rasa yang menusuk hati ini, apa aku memang menyukainya? Bukan, aku hanya sekedar kagum saja.
            Pukul 10.00 sudah waktunya istirahat, perutku terasa menggurutu. Masih terngiang ucapan Heni tentang si cewek cantik itu. Rasa lapar bercampur patah hati berpadu jadi satu. Kuberlari kepintu, ada sesuatu yang menyilaukan mataku terselubung cahaya putih. Oh, itu Ikhwan, haruskah aku memalingkan mataku darinya? Jangan bilang iya, karena ini sayang untuk dilewatkan. Selangkah, dua langkah ia terus mendekat menuju ruang kelasku. Apakah dia ingin bertemu denganku? Pasti bukan. Fiuh,, benar saja, tujuannya bukan untuk bertemu denganku melainkan bertemu dengan temannya, ikbal. Baiklah sepertinya tak ada harapan yang menenangkan hati. Sebaiknya aku pegi saja dari kelas ini, membosankan.
            Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu tiba juga, waktunya pulaaang. Jam sudah menunjukan pukul 2.00, menaiki sepedaku dan bergegas pergi. Benar saja apa kata Heni, kali ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Ikhwan membonceng perempun lain. “Itu jok milikku,,,” jeritku dalam hati, karena memang tak pernah ada perempuan lain yang duduk di jok itu selain aku. Ikhwan kau tega padaku...
            Siang ini matahari tak bersahabat denganku, sengatannya begitu kejam kurasakan, semakin membakar hatiku yang sedang panas. Di sepanjang jalan banyak penjual kaki lima yang menjajakan dagangannya. Hatiku kepincut salah seorang penjual, penjual es buah. Siang ini minum es buah pasti segar, manisnya sertawberi, dipadu melon, buah naga, leci, jeruk, ditambah rumput laut yang renyah dan kenyal dan dinginnya es, pasti dahagaku hilang. Sekaligus bisa menyejukkan hatiku yang sedang gersang ini. Namun pikiran itu terganti dengan tempat mie ayam di ujung jalan, tepatnya di bangku nomor dua,  itu tempat aku biasa makan dengan Ikhwan, hatiku semakin kacau saja. “Bila, kamu cuma sahabatan aja sama Ikhwan, gak boleh lebih!!” hatiku beragumen. Sungguh ini rasa yang aneh, baru kali ini aku merasakannya pada Ikhwan. Apa ini rasa cemburu?
            Walah, perutku semakin memberontak, bunyi-bunyian yang keluar sudah seperti bunyi orkestra yang sering dibawakan bang juli saja setiap manggung. Mungkin ini efek karena semalam aku tak sahur, lapaar. Jadi seperti inikah rasa orang yang tak pernah makan, yang biasa orang miskin rasakan, menyedihkan.  Ketika sampai dirumahpun perutku masih saja bergejolak. Ku jatuhkan badan ini menuju singgahsanaku, semoga saja ketika terbangun nanti perutku bisa tidak sakit lagi.
             Bukannya tidur, malahan aku memikirkan cewek cantik itu. Alamak, teringat lagi kata-kata Heni. Memang saat tadi kulihat, orangnya putih. Tapi apa benar, kulit putihnya bisa bercahaya saat gelap gulita? sulit masuk akal. “Heni pasti terlalu lebay!” baiklah kupastikan siang ini aku harus tidur dan saat terbangun nanti aku sudah merasa segar.
            Pukul 3.47 saatnya bangun, tidur siang satu jam sudah lebih dari cukup. Sekarang waktunya beres-beres, mandi, shalat ashar dan berburu makanan sekaligus ngabuburit. Aku suka hal yang satu ini. Biasanya waktu ngabuburit aku gunakan untuk menghafal ayat-ayat Alquran, walau hanya 3 ayat saja yang ku hapal, namun cara ini jitu untuk menambah hapalanku. Tapi ngabuburit kali ini kugunakan untuk main saja, soal omelan umi, itu masalah belakangan.
            Satu jam menuju kumandang adzan maghrib, langit masih terang merona. Mega belum tampak sedari tadi. Sepertinya matahari masih ingin melihatku tersenyum hari ini. Semerbak aroma makanan hilir mudik mampir di hidungku membuat perut semakin keroncongan saja. Mulai dari aroma ayam goreng, lele goreng, ayam bakar, sate. Duh, sungguh menggugah selera. Bingung mau pilih yang mana, namanya nafsu orang puasa, pasti nafsunya besar. Padahal, saat waktu berbuka hanya sedikit saja makanan yang masuk ke perut. Sepertinya kujatuhkan pilihan pada sate, martabak, dan jus alpukat. Yummy, ketiga menu ini serasa sudah masuk dalam kerongkonganku. Pasti nikmat sekali.
            Kejadian yang membuatku terpana sore ini masih ketika di kios es buah, tak sengaja bertemu dengan Ikhwan, ya Allah senyumnya manis sekali. “Mau beli apa Bila?” tanyanya padaku “oh, eh ini mau beli jus alpukat, ngantri banget ya?” balasku agak kikuk, “Oh, iya..” ikh, hatiku benar-benar aneh. Sekeluit asa bahagia menghampiri. Hatiku berbunga, dahsyat sekali. Ikhwan kau orang  yang bisa membuatku bahagia sekaligus terluka. Gila memang.
            Pukul 18.00 beberapa menit lagi menuju waktu berbuka puasa, perut ku sudah bernyanyi tak merdu, sudah tak bisa berkompromi lagi. Ku rebahkan badanku di sofa, nyaman sekali. Masih teringat peristiwa di kios es buah tadi, akh Ikhwan.. senyummu itu manis meneduhkan, merekahkan jiwa ku ini. Baru saja duduk, adik berteriak-teriak tak jelas “Apa Dek?” “Ada SMS teh,” “Dari siapa?” “Gak tau!! Ini Hpnya” kubaca SMS masuk itu, jantunggku berdentik, ada kata Ikhwan di sana. Ku tekan tombol oke, hpku memproses perintahku itu sedikit lambat, ternyata pesan masuk dari Ikhwan cukup panjang. Pesan itu aku baca perlahan, kata demi kata, perkalimat. Ya tuhan ini mirip dengan surat cinta atau memang surat cinta? Surat cinta elektronik. Aku baca perlahan, nafasku tercekat pada kata “ ,... sebenarnya aku udah pengen bilang ini dari lama banget, tapi karena suatu hal aku  baru bisa bilang itu sekarang. Bila, kamu itu cewek yang beda dari cewek yang lain. Aku suka semua hal tentang kamu, cuek kamu, perhatian kamu, senyum kamu, sampai cemberut kamu. Kamu pasti kaget aku bilang kaya gini, tapi ini yang aku rasain setiap deket sama kamu,...” dadaku terus berdegup kencang “Bila, i love you... will you become my girlfriend??” Bibirku sedikit mengatup dan membentuk setengah lingkaran, hatiku terasa sejuk. Namun aku bingung harus menjawab apa? Mungkinkah menjawab ‘i will’ atau ‘no’ aku benar-benar tak tahu.
Adzan maghrib berkumandang, waktu berbuka puasa sudah tiba. Ikhwan, kau ta’jil buka puasaku, sungguh manis. Baru kali ini aku merasakan ta’jil yang begitu teramat manis, entah kau dapatkan darimana gula yang manis ini. Dari syurgakah? Bukankah syurga masih terkunci? Ahh aku masih tak tau harus menjawab apa. Aku memang menyayangi dan sedikit mencintai ikhwan, tapi aku tak begitu membutuhkannya berada di sampingku sekarang. Kalau begitu, siapakah perempuan yang di bonceng ikhwan tadi? Ini misterius, apa aku yang terlalu cemburu buta? Entahlah aku teramat bingung dengan jawaban yang harus aku beri pada ikhwan.
Aku terkaget, ponselku berbunyi, bergetar, tepat dalam genggamanku. Baiklah, masalah ikhwan aku kesampingkan dahulu dan mengangkat panggilan masuk ini, entah siapa gerangan yang menelefonku. Kugerakan lengan ini dengan lesunya, terlihat nama di layar ponselku. Nama yang tak asing bagiku, entah kenapa aku amnesia sesaat. Aku mengingat-ingat siapa dia? Dan ‘sreg’ sebuah folder terbuka dalam otakku. Ya tuhan itu nomor Ikhwan yang lain, bagaimana bisa aku lupa dengannya? Apa sebegitu luar biasanya kejadian ini bagiku? Sampai-sampai aku hilang ingatan. Aku gugup, masih belum bisa memberikan jawaban yang tepat untuk Ikhwan. Tanpa pikir panjang setelah ingat itu nomor ikhwan, aku mengangkat panggilan masuk ini dan aku masih bingung untuk berkata “i will” atau malah “no”.

Tamat

Sabtu, 22 Maret 2014

(Puisi) Aku Jatuh Cinta



Embun pagi menguap begitu cepatnya
Mawar itu tersenyum seakan mengejekku
Aku merona dikala itu
Sepenggal ironi cinta yang tak terduga
Ia menjamah, bersua denganku
Malu, rupaku memerah

Ada setumpuk kelopak bunga mengisi dadaku
Terlukis syahdu di tempat sang nirwana
Aroma kasih menyesaki indera penciumanku
Perlahan kuhirup, hmm...
Angin melambaikan hawanya
Menentramkan jalan kenangan ini

Matamu yang berair, menyilaukan paradigmaku
Tak tahan ku menatapmu
Sorot matamu begitu menyihirku
Membuatku terpana

Aku lantas mematung di belakang pundakmu itu
Semua andai berkecimpung dalam benakku
Lidahku kelu, mulutku  terkunci tak keluar sepucuk katapun
Dadaku bergetar begitu hebatnya
Hebat sekali
Aku senang di dekatmu
Akh,, aku
Jatuh cinta
Padamu !